Browse Category: Tazkirah

Ini Penjelasan Mengapa Rasulullah SAW Mengatakan Lalat adalah Penawar Penyakit?

Dari Abi Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah SAW telah bersabda yang bermaksud:

Apabila lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kamu maka rendamkanlah lalat itu kemudian buanglah.

Kerana pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat ubat. (Riwayat al-Bukhari)

Kemusykilan

Hadis ini benar-benar pelik. Bolehkah lalat yang dikenali sebagai binatang pengotor mempunyai penawar kepada penyakit yang dibawanya?

Secara Logik

Lalat memang dikenali sebagai binatang pengotor dan pembawa penyakit.
Hal ini sepertimana yang telah diterangkan dalam hadis di atas ‘sesungguhnya pada sebelah sayapnya terdapat penyakit’.

Namun perlu difikirkan kenapakah kekotoran, iaitu merujuk kepada pelbagai jenis bakteria yang terdapat pada tubuh badan lalat ini tidak mengakibatkan penyakit kepada lalat itu sendiri?

Jawapannya adalah kerana lalat memiliki daya tahanan badan semulajadi yang menghasilkan sejenis toksin yang bertindak sebagai penawar (antidote) yang memelihara dirinya daripada bahaya bakteria-bakteria tersebut.

Secara Saintifik

Islam menghendaki kita supaya menjaga kebersihan bukan sahaja pada pakaian dan tempat tinggal malah pada makanan dan juga minuman.

Rasulullah SAW amat menitikberatkan hal ini sehinggakan apabila seekor lalat pun yang memasuki makanan atau minuman, baginda menyuruh kita berwaspada terhadap penyakit yang bakal menimpa seperti keracunan makanan dan sebagainya.

Apa yang disebutkan di dalam hadis di atas telah pun dibuat kajian oleh para saintis pada zaman kemudiannya.

Contohnya pada tahun 1871, Prof. Brefild, Ilmuwan Jerman dari Universiti Hall menemui mikroorganisma jenis Fitriat yang diberi nama Ambaza Mouski dari golongan Antomofterali.
Mikroorganisma ini hidup di bawah tingkat zat minyak di dalam perut lalat. Ambaza Mouski ini berkumpul di dalam sel-sel sehingga membentuk kekuatan yang besar.

Kemudian sel-sel itu akan pecah dan mengeluarkan sitoplasma yang dapat membunuh kuman-kuman penyakit.

Sel-sel tersebut terdapat di sekitar bahagian ke tiga dari tubuh lalat, iaitu pada bahagian perut dan ke bawah.

Kemudian pada tahun 1947, Ernestein seorang Inggeris juga menyelidiki Fitriat pada lalat ini. Hasil penyelidikannya menyimpulkan bahawa fitriat tersebut dapat memusnahkan pelbagai bakteria.
Tahun 1950, Roleos dari Switzerland juga menemui mikroorganisma ini dan memberi nama Javasin.

Para pengkaji lain iaitu Prof. Kock, Famer (Inggeris), Rose, Etlengger (German) dan Blatner (Switzerland) melakukan penyelidikan dan membuat kesimpulan yang sama tentang mikroorganisma pada lalat sekali gus membuktikan bahawa pelbagai penyakit dan bakteria pada lalat hanya terdapat pada hujung kakinya saja dan bukan pada seluruh badannya.

Justeru mikroorganisma yang dapat membunuh kuman itu tidak dapat keluar dari tubuh lalat kecuali setelah disentuh oleh benda cair.

Cairan ini dapat menambah tekanan pada sel-sel yang mengandungi mikroorganisma penolak kuman sehingga pecah dan memercikkan mikroorganisma istimewa ini.

Maka adalah ternyata bahawa apa yang dikatakan oleh Rasulullah adalah benar iaitu saranan baginda kepada kita agar menenggelamkan lalat terlebih dahulu ke dalam air bagi mengeluarkan mikroorganisma penolak kuman dari badan lalat tersebut, dalam erti kata bahawa badannya harus dibasahkan sebelum membuangnya dan air yang menjadi tempat pendaratan lalat tadi dapat diminum dengan selamat.

 

Subhanallah betapa hebatnya junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.

 

Wahai Wanita…Jauhi 5 Perawatan Kecantikan Ini Kerana Boleh Menjerumuskan Diri Ke Neraka

Jenis perawatan kecantikan wanita sudah sangat banyak sekali variasinya. Ada yang ditujukan untuk merawat kaki, kuku, wajah, ketiak bahkan kemaluan sekalipun. Hal ini bertujuan untuk membuat wanita lebih cantik lagi.

Perawatan-perawatan juga tersebut tak jarang mengharuskan wanita merasakan rasa sakit. “Beauty is pain” kata mereka. Bahkan selain sakit, para wanita tersebut juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Alih-alih menunjuang penampilan, ada beberapa perawatan kecantikan masa kini yang ternyata dilarang oleh agama. Apa sajakah itu?

Mencukur Alis

Salah satu cara yang dipecaya dapat membuat seorang wanita tampil lebih cantik adalah dengan merapikan alisnya. Alisnya yang terlalu tebal kemudian dicukur sesuai dengan bentuk yang dinilai ideal. Pencabutan alis tersebut juga dilakukan secara berkala, agar alis terus terlihat rapi. Padahal Allah telah melarang tindakan ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

Allah telah melaknat mengutuk orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan Allah.” (HR. Muslim)

Merenggangkan Gigi

Gigi menjadi salah satu anggota tubuh yang menunjang penampilan. Jika dulu dokter gigi hanya dikunjungi saat gigi berlubang, kini dokter gigi dipenuhi oleh mereka yang ingin giginya lebih rapi dari sebelumnya. Pada dasarnya diperbolehkan merapihkan gigi karena giginya dirasa mengganggu dan menyulitkan ketika makan atau berbicara, tetapi jika hanya bertujuan untuk mempercantik diri maka tentu tidak diperbolehkan.

Menyambung Rambut

Rambut panjang dan sehat menjadi impian setiap wanita, untuk mendapatkannya sebagian wanita memilih untuk menyambung rambutnya agar terlihat lebih panjang dan cantik. Padahal, menyambung rambut termasuk kedalam hal yang diharamkan.

Al-Allamah Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan : “Menyambung rambut adalah haram, karena laknat tidaklah terjadi untuk perkara yang tidak diharamkan.” (Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar, 6/191)

Selain menyambung rambut, ternyata memakai wig atau konde juga tidak diperbolehkan. Bahkan menurut Al-Qadhi ‘Iyadh, menyambung rambut itu adalah maksiat dan dosa yang besar, lantaran adanya laknat bagi yang melakukannya.

Menggambar tato di tubuh

Menusuk-nusuk kulit kemudian memasukan tinta kedalamnya agar tergambar sebuah wujud diatas kulit di haramkan dalam agama Islam. Selain membuat air wudhu tidak dapat mengenai kulit, pembuatan tato juga mendzalimi diri sendiri.

Bukan hanya orang yang dibuatkan tato saja yang dilaknat, pembuat tatonya pun ikut mendapat laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Karena keduanya saling tolong menolong dalam merubah ciptaan Allah, dan hadits ini merupakan dalil bahwa siapa saja yang menolong perbuatan maksiat, maka dia ikut serta dalam dosanya.” (Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Bukhari, 9/174).

Operasi plastik agar terlihat lebih cantik

Ya, Allah meciptakan setiap manusia berbeda satu dengan yang lainnya. Satu orang mungkin bertubuh kurus, tinggi, kemudian yang lainnya gemuk dan pendek. Namun, secara keseluruhan bagian tubuhnya sangat sempurna, fungsi dan segala yang ada didalamnya lengkap serta dapat menunjang kehidupannya.

Namun ada saja yang ingin mengubah bentuk tubuhnya seperti bentuk tubuh yang dinilai ideal menurut pandangan orang lain. Padahal, belum tentu menurut Allah baik.

Dan akan aku (setan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.” (Q.S An-nisa: 119)

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan:”Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya), dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (merobah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (QS. 4:116-119)

Naudzubillah..

 

Pasangan Suami Isteri…..Sila Baca!!! Hukum Minta Cerai Kerana Tidak Diberi Nafkah

Ketika dua insan yang berlainan jenis sepakat untuk membina rumah tangga, sudah dapat dipastikan bahwa keduanya tidak ada niatan atau keinginan untuk bercerai.

Namun terkadang dalam perjalanan biduk rumah tangga ada persoalan yang sangat berat. Pasangan suami istri dituntut menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik. Perceraian bukan solusi terbaik. Tetapi perceraian boleh diambil jika memang kenyataannya persoalan tidak bisa diselesaikan dengan cara lain.

Dari sini kemudian lahir pertanyaan, apakah ketidakmemberian suami terhadap nafkah istri dapat dijadikan alasan bagi istri untuk menuntut cerai?

Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm telah menyimpulkan bahwa Al-Quran maupun As-Sunah telah menyatakan bahwa tanggung jawab suami kepada istri adalah mencukupi kebutuhannya. Termasuk di dalamnya tentunya adalah nafkah.

Konsekuensinya adalah bahwa suami tidak hanya diperbolehkan menikmati istrinya tetapi melalaikan apa yang menjadi haknya. Karena itu jika suami tidak memberikan apa yang menjadi hak istrinya, maka istri boleh memilih di antara dua opsi; tetap melanjutkan rumah tangganya atau berpisah dengan suami.

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى : لَمَّا دَلَّ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ عَلَى أَنَّ حَقَّ الْمَرْأَةِ عَلَى الزَّوْجِ أَنْ يَعُولَهَا احْتَمَلَ أَنْ لَا يَكُونَ لَهُ أَنْ يَسْتَمْتِعَ بِهَا وَيَمْنَعَهَا حَقَّهَا وَلَا يُخَلِّيَهَا تَتَزَوَّجُ مَنْ يُغْنِيهَا وَأَنْ تُخَيَّرَ بَيْنَ مُقَامِهَا مَعَهُ وَفِرَاقِهِ

Artinya, “Imam Syafi’i berkata, baik Al-Qur`an maupun As-Sunah telah menjelaskan bahwa kewajiban suami terhadap istri adalah mencukupi kebutuhannya. Konsekuensinya adalah suami tidak boleh hanya sekadar berhubungan badan dengan istri tetapi menolak memberikan haknya, dan tidak boleh meninggalkannya sehingga diambil oleh orang yang mampu memenuhi kebutuhannya. Jika demikian (tidak memenuhi hak istri), maka isteri boleh memilih antara tetap bersamanya atau pisah dengannya,” (Lihat Imam Muhammad Idris Asy-Syafi’i, Al-Umm, Beirut, Darul Ma’rifah, 1393 H, juz VII, halaman 121).

Jika terjadi perceraian, lantas bagaimana dengan nafkah yang belum diberikan? Dalam konteks  ini suami mesti memberikan nafkah yang belum diberikan. Pandangan ini mengacu pada riwayat yang menyatakan bahwa Sayyidina Umar bin Khaththab RA pernah mengirimkan surat kepada para panglima perang agar mengultimatum para suami yang jauh dari istrinya dengan dua opsi; segera mengirimkan nafkah atau menceraikan istrinya. Jika pilihannya adalah menceraikan istrinya, mereka harus mengirimkan nafkah yang belum diberikan.

وَكَتَبَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى أُمَرَاءِ الْأَجْنَادِ فِي رِجَالٍ غَابُوا عَنْ نِسَائِهِمْ يَأْمُرُهُمْ أَنْ يَأْخُذُوهُمْ بِأَنْ يُنْفِقُوا أَوْ يُطَلِّقُوا ، فَإِنْ طَلَّقُوا بَعَثُوا بِنَفَقَةِ مَا حَبَسُوا. وَهَذَا يُشْبِهُ مَا وَصَفْتُ

Artinya, “Umar bin Khaththab RA pernah menulis surat kepada para panglima perang mengenai para suami yang jauh istrinya, (dalam surat tersebut, pent) beliau menginstruksikan kepada mereka agar mengultimatum para suami dengan dua opsi; antara memberikan nafkah kepada para istri atau menceraikannya. Kemudian apabila para suami itu memilih menceraikan para istri, mereka harus mengirimkan nafkah yang belum mereka berikan selama meninggalkannya. Hal ini mirip dengan apa yang telah saya (imam Syafi’i) kemukakan,” (Lihat Imam Muhammad Idris Asy-Syafi’i, Al-Umm, Beirut, Darul Ma’rifah, 1393 H, juz VII, halaman 121).

Atas dasar penjelasan singkat ini, maka jawaban atas pertanyaan di atas adalah boleh istri mengajukan cerai gugat kepada suaminya dengan alasan suami tidak pernah memberikan nafkah. Nafkah yang belum diberikan selama rentang waktu tidak memberikan nafkah, mesti diberikan. Karena itu merupakan hak istri. Jadi nafkah yang belum diberikan dianggap utang suami kepada istri dengan argumen bahwa agama memberikan ketentuan besaran nafkah setiap hari untuk istri. Ini dalam pandangan Madzhab Syafi’i.

Sementara menurut Madzhab Hanafi, nafkah yang belum sempat diberikan tidak tergolong utang suami kepada istri dengan argumen bahwa tidak ada ketentuan untuk besaran nafkah setiap harinya.

Kembali soal gugat cerai. Di antara argumen lain yang bisa dikemukakan untuk mendukung pendapat yang menyatakan kebolehan bagi istri untuk mengajukan cerai gugat karena suami tidak memberikan nafkah adalah firman Allah dalam surat An-Nisa` ayat 34.

الرِّجَالُ قَوّامُونَ عَلىَ النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ على بَعْضٍ وَبما أنفَقوا منْ أَمْوَالهِمْ

Artinya, “Laki-laki adalah pelindung kaum perempuan, oleh karena itu Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) dengan sabagian yang lainnya (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) menafkahkan sebagian harta mereka…” (QS. An-Nisa` [4]: 34).

Ayat tersebut dengan jelas memberikan penguatan kenapa laki-laki adalah pelindung kaum perempuan? Karena antara lain adalah laki-laki menafkahkan sebagian harta mereka. Dalam konteks relasi hubungan suami istri ayat tersebut mesti dibaca bahwa suami adalah pelindung bagi istrinya karena suamilah yang memenuhi nafkahnya.

Dengan demikian, apabila suami tidak mau memberikan nafkah, maka istri tidak memiliki pelindung. Dan ketika tidak ada pelindung, ia boleh memilih antara tetap bersamanya serta bersabar dengan kondisi yang ia hadapi, atau memilih berpisah dengannya.

Namun sebelum memutuskan untuk bercerai dengan suami karena tidak diberi nafkah, sebaiknya dilakukan upaya mediasi terlebih dahulu untuk menyelesaikan persoalan yang ada. Dan jika tetap gagal dan solusinya hanya dengan berpisah, maka segera selesaikan di pengadilan agama setempat.

 

 

INI PENJELASAN MENGAPA KITA DILARANG BERSIKAP KEAKUAN!! BACA DAN SEBARKAN…

Adakah anda bersikap keakuan tanpa sedar?

Bersikap keakuan atau mementingkan diri sendiri adalah sikap yang berlawanan dengan sifat manusia yang diciptakan untuk hidup bermasyarakat.

Dalam hidup ini kita tidak boleh buat hal sendiri tanpa mengambil tahu dan terlibat dengan orang lain dalam masyarakat yang kita hidup di dalamnya.

Akhirnya nanti kita akan menjadi seperti “kera sumbang” yang terasing walaupun kita tinggal dalam sebuah komuniti.

Manusia adalah insan sosial yang hidup saling bergantungan.

 

Setiap ahli dalam masyarakat saling memerlukan kerana walaupun kita mempunyai wang yang banyak belum tentu kita dapat memiliki semuanya kerana tidak semua benda adalah untuk dijual.

Sebahagian dari apa yang kita perlukan ada pada ahli masyarakat seperti rasa hormat, rasa diterima, kemesraan, persahabatan dan sebagainya dan untuk mendapatkannya kita perlu membuat diri kita diterima oleh mereka.

Bersikap individualistik bercanggah dengan fitrah kejadian manusia, dimana fasafah individualisme adalah sikap tidak mahu dikongkong atau dikuasai.

Sikap ini membuat kita dipulau oleh masyarakat.

Faham individualisme adalah falsafah yang tidak munasabah kerana manusia hidup saling bergantungan.

Mana mungkin seseorang itu dapat melakukan fungsi keseluruhan hidup manusia. Kita bekerja untuk orang lain dan membelanjakan pendapatan kita untuk membeli hasil kerja orang lain.

Tiada satu pun dalam hidup ini yang kita hasilkan atau miliki yang tidak melibatkan orang lain.

Oleh itu janganlah bersikap keakuan dan sombong kerana kita tidak mungkin dapat menjalankan fungsi hidup kita dengan sebenarnya tanpa wujud insan lain di dunia ini.

Oleh itu hapuskan sifat keakuan dan beralih kepada sifat kekitaan kerana seseorang individu akan merujuk dirinya berasaskan identiti masyarakat dan komuniti mereka.

Dengan semangat kekitaan ahli masyarakat akan saling melengkapi.

Melaluinya wujud pepaduan, pemuafakatan, kebajikan dan keselamatan.

Dengan semangat kekitaan seseorang akan merasa hidupnya lebih bermakna.

Hidup seolah-olah dikelilingi saudara mara kerana kejiranan yang melayan kita dengan mesra  seperti saudara.

 

Kemesraan menyatukan ahli masyarakat.

 

Bak kata pepatah, “Bersatu teguh, bercerai roboh”.

Bila semuanya sepakat dan dilakukan secara bersama atau gotong royong pekerjaan menjadi mudah.

Semangat inilah yang telah semakin hilang dari masyarakat kita akibat pembangunan kebendaan yang tidak seimbang dengan pembangunan kerohanian yang mengakibatkan bertambah kuatnya sifat keakuan dalam masyarakat.

Sedangkan budaya kerjasama atau gotong royong orang Jepun yang dipanggil “ring-gi” masih diamalkan mereka.

Setiap kerja yang mereka lakukan mereka mengadakan muafakat dan melaksanakannya secara bersama.

Kerjasama atau ‘team work’ ini dipraktikkan bukan sahaja dalam masyarakat malah dalam sistem pekerjaan mereka.

Tidak hairanlah Negara mereka menjadi Negara maju.

Berbeza dengan sikap masyarakat kita enggan bekerjasama dan berkongsi kejayaan. Sebaliknya lebih bersikap keakuan dan ingin menang sendiri sahaja.

Sikap keakuan yang merasa diri sendiri istimewa dan lebih baik dari orang lain adalah dilarang oleh Islam.

Tiada sistem kasta dalam Islam.

Sebaliknya Islam menuntut umatnya hidup bemasyarakat. Firman Allah SWT yang bermaksud,

 

Wahai manusia!  Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan. Sesungguhnya semulai-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu.”  

(QS Al-Hujarat ayat 13)

Keakuan adalah sifat ego yang merasa diri sendiri istimewa dan ada kelas yang tersendiri.

 

Sedangkan bagi Allah manusia yang paling baik di sisinya adalah orang-orang yang bertaqwa yang hidupnya saling berkenalan dan berukhuah sesama ahli masyarakat.

Ubahlah diri kita kepada bersikap kekitaan dan menghindarkan diri kita dari sifat keakuan.

Dengan sifat kekitaan kita rasa hidup bersaudara, bekerjasama dan rasa dilindungi.

Sedangkan sifat keakuan lebih kepada menyendiri dan ‘syok sendiri’ yang sebenarnya tidak ada siapa yang peduli.

Hiduplah dalam alam yang lebih luas yang kita kongsi bersama insan lain dan jangan biarkan diri kita memencil seperti petapa yang diam di dalam gua yang terasing.

Artikel ini dikongsikan oleh Tuan Abd Rahman Bin Mat Yasin, Seorang pakar dalam bidang taksiran hartanah yang kini menetap di Batu Gajah, Perak. Semoga apa yang dikongsikan oleh Tuan Abd Rahman ini memberi manfaat dan input berguna kepada semua pembaca.

Syukran Jazilan.

 

Kaum Suami….Sila Ambil Perhatian!!! Inilah 5 Hak Isteri Terhadap Duit Suami.

Ramai dikalangan para isteri rasa teraniaya dengan sikap suami mereka yang tidak memahami bahawa isteri juga mempunyai hak yang perlu ditunaikan oleh seorang suami kepada isterinya.

Ikatan perkahwinan adalah merupakan simpulan tanggungjawab dan amanah besar yang perlu dipikul oleh kedua-dua pasangan, suami dan isteri. Tanggungjawab suami adalah lebih berat daripada tanggungjawab isteri, meskipun ramai yang menganggap isteri lebih banyak beban berbanding suami.

Namun begitu, hakikatnya di alam akhirat nanti suami mempunyai bebanan yang lebih berat lagi untuk dilaksanakan, yang akan disoal oleh Allah SWT. Suami akan dipertanggungjawabkan atas segala yang berlaku ke atas isteri dan keluarganya.

Dalam institusi rumahtangga, setiap pasangan suami isteri perlu menyedari bahawa masing-masing mempunyai hak tersendiri. Dalam Islam setiap suami wajib melayani isterinya dengan baik dan setiap isteri juga wajib taat dan melayani suami dengan sebaiknya. Islam adalah agama yang sempurna, setiap hukum dan peraturan yang terdapat bukan hanya memihak kepada lelaki, tetapi juga kepada isteri dan kesemua pihak.

Dari segi nafkah suami kepada isteri, suami perlu sediakan 5 nafkah ini:

makan minum isteri.

Duit belanja diri (Menurut Lembaga Zakat, potongan ke atas isteri adalah RM3000 setahun. Bila dibahagi 12bulan…jadi rm250 sebulan. Pun begitu, ia bergantung pada pendapatan/ehsan suami ) Duit belanja dapur.

peralatan mandian

ubat ubatan / medical

pakaian baru 2 persalinan setahun. Ini termasuk pakaian dalam, telekung, tudung, kasut dll.

rumah yang selesa untuk isteri tinggal dengan aman dan mudah membuka auratnya (tiada yg bukan mahram). Termasuk segala bil berkaitan rumah.

~petikan kuliah Ustaz Fawwaz~

Nasihat saya… kepada isteri, bila dah tahu bab nafkah ni, jangan pula demand lebih-lebih hingga di luar kemampuan suami ye. Apa2 pun ikut kemampuan suami. Jadilah penyejuk hati suami dalam segala keadaan. Kalau suami tak mampu, sedikit yang suami bagi tu kita bersyukurlah. Bila bersyukur, moga Allah tambah nikmat dan hidup pun lebih bahagia.

Satu lagi, tolonglah para isteri untuk amanah dengan duit yang suami beri. Misalnya untuk duit belanja dapur, bila memasak tu jangan terlalu berlebihan. Makan berempat saja, tapi masak macam untuk 10 orang. Bila tak habis, simpan peti ais…terlupa pulak nak makan..akhirnya dibuang. Kata ustaz, isteri yang selalu macam ni…isteri yang khianat. Dia tidak amanah. Mungkin dia tak sedar yang perbuatannya itu boleh mendatangkan dosa.

Bagi suami yang isterinya bekerja pula, jangan sedap sangat guna duit isteri tanpa izinnya. Dah lah duit rumah guna potongan gaji isteri, duit dapur pun under isteri….duit makan isteri kat ofis tak pernah hulur…konon cakap, “duit gaji saya, saya simpan untuk emergency..untuk kegunaan kita jugak”….Awak, kalau isteri awak tu tak halalkan, tak lepas nanti awak kat akhirat.

Ada sahabat saya beritahu, suaminya setiap malam sebelum tidur akan selalu minta maaf dan minta dihalalkan jika dia ada teralpa tentang tanggungjawabnya atau ada termakan duit isterinya. Bila suami cakap macam tu…takkanlah kita tegar untuk tidak memaafkan. Betul tak?

Isteri jika bekerja, walaupun memang bukan tanggungjawab kita untuk cover belanja rumah, tapi jika suami memang tak mampu, kita belajarlah untuk sabar dengan ujian ni, belajar untuk redha dan seterusnya bersyukur. Kenapa perlu syukur?

Bersyukurlah kerana di sebalik ketidakmampuan suami itu, ada hikmah tersembunyi. Allah rupa-rupanya nak bagi kita pahala besar. Mulai sekarang, segala yang kita belanja untuk keluarga tu niatkanlah sebagai sedekah. Sedekah pada keluarga terdekat, pahalanya sangat WOW melebihi pahala sedekah fisabilillah kata ustaz. Sentiasa ingat, hidup kita di dunia ni untuk kumpul pahala sebanyak-banyaknya. Syurga tu kan mahal.

Sesungguhnya sedekah itu menggugurkan dosa seperti air memadamkan api…juga membentengkan kita daripada api neraka.

Semoga bermanfaat. Wallahualam.

Inilah Penjelasan Mengapa Kita Dilarang Menceritakan Aib Pasangan Kita Kepada Orang Lain

Tujuan dari seseorang berumah tangga adalah agar mendapatkan ketenangan dan ketentraman di dalamnya dikarenakan adanya rasa saling mencintai, mengasihi, menyayangi, seperasaan dan senasib sepenanggungan di dalam menjalani kehidupan.

 

Tujuan dari seseorang berumah tangga adalah agar mendapatkan ketenangan dan ketentraman di dalamnya dikarenakan adanya rasa saling mencintai, mengasihi, menyayangi, seperasaan dan senasib sepenanggungan di dalam menjalani kehidupan.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ruum [30] : 21)

Untuk itu, islam telah menentukan hak-hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga serta kewajiban bersama mereka didalam mewujudkan berbagai tujuan diatas. Diantaranya adalah adanya upaya untuk saling menjaga kehormatan dan menutupi aib masing-masing.

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Artinya: “Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (QS. An Nisa [4] : 34)

Islam melarang seorang suami atau istri mengungkapkan aib-aib masing-masing pasangannya kepada orang lain dengan tujuan yang tidak dibenarkan, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat.”

Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.”

Begitu juga larangan Islam dari menceritakan dan mengungkapkan rahasia hubungan mereka berdua di tempat tidur kepada orang lain berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya.”

Wallahu A’lam

 

Subhanallah…Inilah Keadaan Mayat Setelah Dikuburkan

Dalam sebuah hadis menerusi Sahih Ibn Hibban No.777 dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya apabila mayat telah dikuburkan, dia mendengar bunyi tapak kaki orang yang menyelenggarakannya, ketika kembali dari tempat pengebumian. Jika dia seorang Mukmin, maka ibadah solat akan berada di kepalanya, puasa berada di samping kanannya, zakat di sebelah kirinya, sementara seluruh perbuatan baiknya seperti sedekah, silaturrahim, amalan yang makruf dan perlakuan ihsannya kepada manusia berada di kedua kakinya.

Lantas ia datang dari arah kepalanya, sehingga amalan solat berkata: “Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini). Dia juga didatangi dari sebelah kanan sehingga amalan puasanya berkata: “Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini). Ia kembali didatangi dari arah kiri, sehingga amalan zakatnya berkata: “Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).”

Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, sehingga segala perbuatan yang baik, seperti sedekah, silaturahim amalan yang makruf dan perlakuan kepada manusia berkata: “Tidak ada tempat dari arahku (untuk mengganggu orang ini).” Kemudian dikatakan kepadanya: “Duduklah dengan tenang!” Orang Mukmin itu duduk dan ia diibaratkan seperti matahari yang tenggelam. Para malaikat bertanya kepadanya: “Apa yang telah kamu katakan tentang lelaki yang diutus kepada kalian (yang dimaksudkan adalah Nabi Muhammad)? Apa yang engkau persaksikan atasnya?”

Orang Mukmin itu menjawab: “Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan solat terlebih dahulu.” Dikatakan kepadanya: “Engkau boleh mengerjakan, tetapi jawablah terlebih dahulu pertanyaan yang kami ajukan kepadamu: “Apa pendapatmu tentang seorang lelaki yang berada di tengah-tengahmu? Apa yang kamu persaksikan atasnya?”

Orang Mukmin itu menjawab: “Lelaki itu adalah Muhammad, aku bersaksi bahawa dia itu Rasulullah s.a.w. Dia telah datang kepada kami dengan membawa kebenaran dari Allah s.w.t.” Dikatakan kepadanya: “Ya, kamu benar, kamu telah hidup berdasarkan keyakinan ini. kamu mati juga dengan keyakinan ini dan akan dibangkitkan juga berdasarkan keyakinan ini insya-Allah.”

Lantas dibukakan untuknya salah satu dari beberapa pintu syurga, kemudian dikatakan kepadanya: “Inilah tempat tinggalmu dan segala isinya yang telah dipersiapkan Allah untukmu.” Maka dia merasa lebih bahagia dan gembira. Kemudian dibukakan untuknya salah satu daripada beberapa pintu neraka, sambil dikatakan: “Inilah tempat tinggalmu dengan segala isinya telah dipersiapkan Allah jika kamu berbuat maksiat kepadanya.” Dia semakin merasa gembira dan bahagia (kerana tidak termasuk golongan ahli maksiat). Kemudian kuburnya dilapangkan sepanjang 70 hasta, diberikan nur penerang dan jasadnya dikembalikan seperti semula,dan rohnya diletakkan ke dalam burung yang bertenggek di atas pohon dalam syurga.

Itulah yang dimaksudkan dengan firman Allah s.w.t. menerusi surah Ibrahim ayat ke 27 yang bermaksud: “Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang teguh, dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.”

Namun apabila orang tersebut kafir, maka ia akan didatangi di kuburnya dari arah kepalanya dan ia tidak menemui suatu kebaikan pun (yang boleh melindunginya). Kemudian didatangi dari sebelah kanannya, dan ia tidak menemui kebaikan apa pun(yang dapat melindunginya). Lalu didatangi dari bahagian kedua kakinya, ia juga tidak menemui kebaikan apa pun.

Lantas dikatakan kepadanya: “Duduklah.” Kemudian ia duduk dengan perasaan takut dan gelisah. Lalu ditanyakan kepadanya: “Apa yang dulu kami katakan tentang lelaki yang berada di tengah-tengahmu ini?”

Ia tidak dapat memberikan sebarang jawapan tentang nama lelaki itu (iaitu Nabi Muhammad s.a.w.). Dia hanya mampu menjawab: “Aku tidak tahu, memang aku dulu mendengar orang-orang telah mengatakan sesuatu, sehingga aku juga mengatakan apa yang mereka katakan.” Lalu dikatakan kepadanya: “Berdasarkan keraguan inilah kamu telah menjalani hidup, dan berdasarkan (keraguan) inilah kamu mati, serta berdasarkan (keraguan) inilah kamu akan di bangkitkan (dari kubur) insya-Allah.”

Kemudian dibukakan untuknya salah satu pintu dari pintu neraka, dan dikatakan kepadanya,

“Inilah tempat tinggalmu dan segala isinya yang telah dipersiapkan Allah untukmu.” Dan ia merasa begitu rugi dan menyesal. Kemudian dibukakan untuknya salah satu dari beberapa pintu syurga, sambil dikatakan: “Inilah tempat tinggalmu di syurga jika kamu taat kepada Allah.” Maka ia menjadi semakin rugi dan menyesal (kerana tidak termasuk sebagai orang yang taat).

Kemudian disempitkan kuburnya hingga tulang-tulang rusuknya saling bertindih dan menjadi remuk. Itulah kehidupan sempit sebagaimana yang dimaksudkan dalam firman Allah s.w.t. menerusi surah Taha ayat 124 yang bermaksud:

“Dan sesiapa berpaling daripada peringatan- Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan Yang sempit, dan Kami himpunkan pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Pengajaran

  1. Pintu syurga akan dibuka untuk orang Mukmin dan soleh.
  2. Pintu neraka akan dibuka kepada orang kafir dan ahli maksiat.
  3. Nikmat akan dikurniakan kepada orang yang beriman dan azab akan diberikan kepada ahli maksiat.
  4. Amalan yang dilakukan oleh manusia di dunia akan menentukan tempat yang sesuai untuk mereka di akhirat sama ada syurga atau neraka.
  5. Bagi seseorang Mukmin setiap ibadah yang dikerjakan sepanjang hidupnya dengan ikhlas kerana Allah, maka ibadah itu akan melindunginya.

Oleh Ustaz Zahazan Mohamed

 

SEPERTI YANG DIKETAHUI HAJAR ASWAD ADALAH BATU DARI SYURGA. INI PENJELASAN MENGAPA KITA MENCIUM HAJARUL ASWAD??

Perlu diketahui bahwa hajar aswad adalah batu yang diturunkan dari surga. Asalnya itu putih seperti salju. Namun karena dosa manusia dan kelakukan orang-orang musyrik di muka bumi, batu tersebut akhirnya berubah jadi hitam.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « نَزَلَ الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِى آدَمَ »

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « الْحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَكَانَ أَشَدَّ بَيَاضاً مِنَ الثَّلْجِ حَتَّى سَوَّدَتْهُ خَطَايَا أَهْلِ الشِّرْكِ.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad adalah batu dari surga. Batu tersebut lebih putih dari salju. Dosa orang-orang musyriklah yang membuatnya menjadi hitam.” (HR. Ahmad 1: 307. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa lafazh ‘hajar Aswad adalah batu dari surga’ shahih dengan syawahid-nya. Sedangkan bagian hadits setelah itu tidak memiliki syawahid yang bisa menguatkannya. Tambahan setelah itu dho’ifkarena kelirunya ‘Atho’).

Keadaan batu mulia ini di hari kiamat sebagaimana dikisahkan dalam hadits,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى الْحَجَرِ « وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ يَشْهَدُ عَلَى مَنِ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ »

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai hajar Aswad, “Demi Allah, Allah akan mengutus batu tersebut pada hari kiamat dan ia memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara dan akan menjadi saksi bagi siapa yang benar-benar menyentuhnya” (HR. Tirmidzi no. 961, Ibnu Majah no. 2944 dan Ahmad 1: 247. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan dan Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Kenapa Kita Mencium Hajar Aswad?

Perhatikan hadits berikut,

عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ يُقَبِّلُ الْحَجَرَ وَيَقُولُ إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُقَبِّلُكَ لَمْ أُقَبِّلْكَ

“Dari ‘Abis bin Robi’ah, ia berkata, “Aku pernah melihat ‘Umar (bin Al Khottob) mencium hajar Aswad. Lantas ‘Umar berkata, “Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau hanyalah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka tentu aku tidak akan menciummu” (HR. Bukhari no. 1597, 1605 dan Muslim no. 1270).

Dalam lafazh lain disebutkan,

إِنِّى لأُقَبِّلُكَ وَإِنِّى أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ وَأَنَّكَ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Sesungguhnya aku menciummu dan aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberikan mudhorot (bahaya), tidak bisa pula mendatangkan manfaat. Seandainya bukan karena aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim no. 1270).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

Wajibnya mengikuti petunjuk Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah beliau tunjuki walau tidak nampak hikmah atau manfaat melakukan perintah tersebut. Intinya, yang penting dilaksanakan tanpa mesti menunggu atau mengetahui adanya hikmah.Ibadah itu tawqifiyah, yaitu berdasarkan dalil, tidak bisa dibuat-buat atau direka-reka.Mencium hajar aswad termasuk ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kenapa mencium hajar aswad? Alasannya mudah, karena ingin mengikuti ajaran Rasul. Karena seandainya Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak melakukannya, maka tentu kaum muslimin tidak melakukannya.Para sahabat begitu semangat melaksanakan setiap ajaran Rasul.Yang mendatangkan manfaat danmudhorot hanyalah Allah. Hajar aswad hanyalah batu biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa.Segala sesuatu selain Allah tidak dapat memberikan manfaat atau bahaya walau ia adalah sesuatu yang diagung-agungkan.

Catatan:

Perlu sekali dijaga niat saat mencium batu Hajar Aswad. Karena ada yang mencium Hajar Aswad cuma karena ingin dipuji orang bahwa dia telah mencium batu yang mulia. Padahal seharusnya yang jadi niatan adalah ikhlas dan karena ikut tuntunan baginda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

SUMBER:UNTUK-ISLAM

Mengumpat Ialah Memburukkan Seseorang Kepada Orang Lain. Tahukah Anda, Dosa Mungumpat Hanya Boleh Diampun Oleh Mangsa

Mengumpat ialah menceritakan atau menyebut keburukan atau kekurangan seseorang kepada orang lain.

Rasullah S.A. W. menjelaskan mengenai mengumpat seperti sabdanya bermaksud “Mengumpat itu ialah apabila kamu menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu perkara yang dibencinya”(Hadis Riwayat Muslim)

Mengumpat berlaku sama ada disedari atau tidak. Perbuatan itu termasuk apabila menyebut atau menceritakan keburukan biarpun tanpa menyebut nama pelakunya tetapi diketahui oleh orang yang mendengarnya.

Memandangkan betapa buruk dan hinanya mengumpat, ianya disamakan seperti memakan daging saudara seagama. Manusia waras tidak sanggup memakan daging manusia, inikan pula daging saudara sendiri.

Dosa mengumpat bukan saja besar, malah antara dosa yang tidak akan
diampunkan oleh Allah biarpun pelakunya benar-benar bertaubat.

Dosa mengumpat hanya layak diampunkan oleh orang yang diumpatkan. Selagi orang yang diumpatnya tidak mengampunkan, maka dosa itu akan kekal dan menerima pembalasannya diakhirat.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud: “Awaslah daripada mengumpat kerana mengumpat itu lebih berdosa daripada zina. Sesungguhnya orang melakukan zina, apabila dia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang melakukan umpat tidak akan diampunkan dosanya sebelum diampun oleh orang yang diumpat” (Hadis riwayat Ibnu Abib Dunya dan Ibnu Hibbad)

Disebabkan mengumpat terlalu biasa dilakukan, maka ia tidak dirasakan lagi sebagai satu perbuatan dosa. Hakikat inilah perlu direnungkan oleh semua.

Mengumpat dan mencari kesalahan orang lain akan mendedahkan diri pelakunya diperlakukan perkara yang sama oleh orang lain. Allah akan membalas perbuatan itu dengan mendedahkan keburukan pada dirinya. Sabda Rasulullah S.A.W. “Wahai orang yang beriman dengan lidahnya tetapi belum beriman dengan hatinya! Janganlah kamu mengumpat kaum muslim, dan janganlah kamu mengintip-intip keaibannya. Sesungguhnya, sesiapa yang mengintip keaiban saudaranya, maka Allah akan mengintip keaibannya, dan dia akan
mendedahkannya, meskipun dia berada dalam rumahnya sendiri” (Hadis riwayat Abu Daud)

Orang yang mengumpat akan mendapat kerugian besar pada hari akhirat. Pada rekod amalan mereka akan dicatatkan sebagai perbuatan menghapuskan pahala.

Sabda Rasulullah S.A.W. bermaksud : “Perbuatan mengumpat itu samalah seperti api memakan ranting kayu kering”. Pahala yang dikumpulkan sebelum itu akan musnah atau dihapuskan seperti mudahnya api memakan kayu kering sehingga tidak tinggal apa-apa lagi.

Diriwayatkan oleh Abu Ummah al-Bahili, di akhirat seorang terkejut besar apabila melihat cacatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya didunia. Maka, dia berkata kepada Allah “Wahai Tuhan ku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukan”. Maka Allah menjawab : “Semua itu kebaikan (pahala) orang yang mengumpat engkau tanpa engkau ketahui”.

Sebaliknya, jika pahala orang yang mengumpat tidak ada lagi untuk diberikan

kepada orang yang diumpat, maka dosa orang yang diumpat akan dipindahkan kepada orang yang mengumpat. Inilah dikatakan orang muflis diakhirat nanti.

Memandangkan betapa buruknya sifat mengumpat, kita wajib berusaha mengelakkan diri daripada melakukannya.

Oleh itu perbanyakkanlah zikir supaya dapat menghindarkan diri daripada mengumpat.

Sumber: Koleksi Tazkirah

Kebaikan Boleh Diberi Kepada Orang Lain Dengan Pelbagai Cara. Ini 10 Cara Memberi Walaupun Kita Tidak Kaya

Kata orang kalau kita kaya, hari-hari rasanya seperti hari raya. Boleh bergembira dan berbuat semua kebaikan yang kita impikan. Dapat memberi dan berkongsi kekayaan kita dengan orang lain.

Tetapi benarkah kita hanya boleh berbuat baik, dan memberi kepada orang lain sekiranya kita kaya-raya sahaja?

Kebaikan sebenarnya dapat diberikan kepada orang lain dalam apa jua keadaan sekali pun. Sesetengah situasi datang sebagai ujian dalam hidup untuk kita memilih sama ada untuk memberi atau melupakan.

Kadangkala kita juga mungkin terlupa untuk memberi kepada insan terdekat yang kita temui saban hari.

Jadi, apa kata kita lakukan 11 cara memberi yang sangat mudah ini meskipun kita belum lagi menjadi orang kaya atau jutawan.

  1. Salam dan peluk

Apabila berjumpa dengan golongan gelandangan atau anak-anak yatim, hulurkan bantuan dan duduk berbual bersama-sama mereka. Selain daripada wang ringgit, mereka juga perlukan teman berbual dan merasakan pelukan mesra seorang ahli keluarga.

  1. Meow!

Ada kucing jalanan yang merapati kita sewaktu di kedai makan? Kongsikan sedikit makanan kita serta belai manja kucing-kucing ini. Haiwan juga seperti manusia, selain mempunyai makanan dan tempat tinggal, mereka juga mahu disayangi dan dimanjakan.

  1. Kosong-kosong

Memberi kemaafan kepada seseorang bukan mudah. Beritahu dengan jelas kepada orang yang meminta maaf kepada kita, bahawa kita telah memaafkan dia dengan setulus hati. Kemaafan bukan sahaja akan memberi ketenangan hati kepada dia, tetapi kepada kita juga.

  1. Jalan terus dan belok kiri!

Tidak tahu ke mana hendak dituju apabila berada di tempat yang baru dikunjungi memang tidak menyeronokkan. Andai kita arif selok-belok sesebuah bangunan atau tempat, tunjukkan arah yang jelas kepada orang yang bertanya sehingga dia menemui apa yang dicari.

  1. Percuma untuk kamu!

Sewaktu membeli makanan, bayarkan beberapa bungkusan lebih untuk orang lain yang datang kemudian. Di pasar malam, beli satu dulang kuih kegemaran kita, dan minta penjual agihkan percuma kepada sesiapa sahaja yang berhajat membelinya nanti.

  1. Syurga kita

Semakin hari ibu bapa kita akan menjadi semakin berusia. Sekiranya mereka memerlukan rawatan rapi di hospital atau di rumah, tawarkan diri menjaga mereka dengan sebaiknya. Kita tidak tahu berapa lama masa yang kita ada untuk melakukan bakti sebegini.

  1. Hai Pak Guard!

Berselisih dengan pengawal keselamatan setiap hari? Selain senyum, tanyakan juga khabar mereka. Jangan lupa bungkuskan kopi O dan makanan juga. Sekali-sekala tanyakan tentang keluarga dan kisah kerja mereka.

  1. Bento untuk semua

Bekalkan makanan lebih untuk anak kita makan bersama rakan-rakannya pada waktu rehat di sekolah. Sewaktu mengambil anak pulang dari sekolah atau di taman permainan, belanja aiskrim buat kanak-kanak yang ada di sana.

  1. “Keyboard warrior”

Di media sosial hari ini, terdapat pebagai isu dipaparkan dan kemudian dibaca oleh kita. Tinggalkan komen yang sopan dan tidak menghakimi orang lain. Wira papan kekunci yang sebenarnya adalah mereka yang tidak mudah berkongsi tanpa usul periksa dan menghormati orang lain.

  1. Senyum

Jika seseorang tersenyum kepada kita, balas semula senyuman itu dengan lebih manis. Kita tidak tahu apa yang dia sedang hadapai, tetapi dia masih mampu menguntumkan senyuman buat kita. Senyuman adalah pemberian paling mudah dan memberi kesan gembira serta-merta kepada pemberi dan penerimanya.

Tidak ada salahnya menjadi kaya untuk memberi kepada orang lain.

Namun kita tidak perlu menunggu menjadi kaya atau jutawan sebelum mahu berkongsi apa yang kita ada.

Sewaktu memberi, hantarkan barang pemberian kita itu bersama rasa kasih, sayang dan persahabatan kepada orang yang menerima. Memberi bererti mendidik hati merasa cukup dengan apa yang ada serta langsung tidak mengharapkan ucapan terima kasih.

Kita mungkin tidak akan dikenali sampai bila-bila tetapi hati kita akan merasa bahagia.

Jadi, sudahkah kita memberi walaupun sekuntum senyuman pada hari ini?